<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ahlan Wa Sahlan</title>
	<atom:link href="http://salafpsusu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salafpsusu.wordpress.com</link>
	<description>Jln T.Minyak No.23 Pangkalan Susu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 08:49:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salafpsusu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ahlan Wa Sahlan</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salafpsusu.wordpress.com/osd.xml" title="Ahlan Wa Sahlan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salafpsusu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Haramnya Mengucapkan Salam Kepada Orang Kafir</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/haramnya-mengucapkan-salam-kepada-orang-kafir-2/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/haramnya-mengucapkan-salam-kepada-orang-kafir-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 08:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ “Janganlah kalian yang memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit.” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=28&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ</strong><br />
<em>“Janganlah kalian yang memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit.” </em>(HR. Muslim no. 2167)<br />
Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu- dia berkata: Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ</strong><br />
<em>“Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah, “Wa ‘alaikum (dan juga atasmu).” </em>(HR. Al-Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)<br />
Dari Usamah bin Zaid -radhiallahu ‘anhu- dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكِبَ حِمَارًا عَلَيْهِ إِكَافٌ تَحْتَهُ قَطِيفَةٌ فَدَكِيَّةٌ, وَأَرْدَفَ وَرَاءَهُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ -وَهُوَ يَعُودُ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ فِي بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ- وَذَلِكَ قَبْلَ وَقْعَةِ بَدْرٍ. حَتَّى مَرَّ فِي مَجْلِسٍ فِيهِ أَخْلَاطٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَالْيَهُودِ, وَفِيهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ وَفِي الْمَجْلِسِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ. فَلَمَّا غَشِيَتْ الْمَجْلِسَ عَجَاجَةُ الدَّابَّةِ, خَمَّرَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ أَنْفَهُ بِرِدَائِهِ ثُمَّ قَالَ: لَا تُغَبِّرُوا عَلَيْنَا. فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ وَقَفَ فَنَزَلَ فَدَعَاهُمْ إِلَى اللَّهِ وَقَرَأَ عَلَيْهِمْ الْقُرْآنَ</strong><br />
<em>“Bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengendarai keledai yang di atasnya ada pelana bersulam beludru Fadaki, sementara Usamah bin Zaid membonceng di belakang beliau ketika hendak menjenguk Sa’ad bin ‘Ubadah di Bani Al Harits Al Khazraj, dan peristiwa ini terjadi sebelum perang Badar. Beliau kemudian berjalan melewati suatu majelis yang di dalam majelis tersebut bercampur antara kaum muslimin, orang-orang musyrik, para penyembah patung, dan orang-orang Yahudi. Dan di dalam majelis tersebut terdapat pula Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abdullah bin Rawahah. Saat majlis itu dipenuhi kepulan debu hewan kendaraan, ‘Abdullah bin Ubay menutupi hidungnya dengan selendang sambil berkata, “Jangan mengepuli kami dengan debu.” Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengucapkan salam pada mereka lalu berhenti dan turun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka menuju Allah sambil membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 6254 dan Muslim no. 1798)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Ucapan salam merupakan ucapan penghormatan dan doa kepada kaum muslimin, karenanya kaum muslimin dilarang untuk mengucapkan salam kepada orang kafir, karena mereka dilarang untuk menghormati dan mendoakan orang kafir. Hanya saja sebagai bentuk keadilan yang diperintahkan oleh Allah, kapan mereka mengucapkan salam kepada kita maka kitapun menjawabnya, tapi dengan lafazh, “Wa ‘alaikum,” yakni: Untuk kamu juga yang semisal dengannya. Hanya saja hadits Usamah di atas menunjukkan bolehnya mengucapkan salam kepada sekelompok orang yang di antara mereka ada orang-orang muslim dan ada juga orang-orang kafir.</p>
<p><strong>Pelajaran tambahan dari dalil-dalil di atas:</strong><br />
1.    Disyariatkan mendesak orang-orang kafir ke pinggir jalan jika kita bertemu dengan mereka. Tentunya pengamalannya di zaman ini disesuaikan dengan pertimbangan maslahat dan mafsadat.<br />
2.    Bolehnya berboncengan di atas satu kendaraan, selama tidak memberatkan kendaraan/tunggangannya.<br />
3.    Tidak najisnya keledai jinak, walaupun dia haram untuk dimakan. Karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- menaiki keledai dan keledai termasuk hewan yang sering ada di tengah-tengah manusia dan mereka sulit untuk menjauh darinya. Dan kaidahnya: Semua hewan yang hidup di tengah-tengah manusia dan mereka sulit untuk menghindar darinya adalah suci. Ini terambil dari hadits Abu Qatadah riwayat Imam Empat ketika Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang kucing:<br />
<strong>إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوْ الطَّوَّافَاتِ</strong><br />
<em>“Kucing tidaklah najis. Dia hanyalah merupakan hewan yang biasa berkeliaran di sekelilingmu.”</em><br />
Jadi beliau menyebutkan sebab tidak najisnya kucing karena dia seringa berada di sekitar kita.<br />
4.    Disyariatkannya mengunjungi kaum muslimin yang sakit, bahkan Nabi  menjadikan itu sebagai hak seorang muslim dari muslim lainnya.<br />
5.    Larangan menyayangi dan berloyal kepada orang-orang kafir tidak mengharuskan kita tidak boleh bergaul dan berbaur dengan mereka. Di sini Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak mengingkari berkumpulnya sebagian kaum muslimin dengan orang-orang musyrikin.<br />
6.    Sikap pemaaf Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada orang-orang yang jahil.<br />
7.    Semangat beliau -alaihishshalatu wassalam- dalam berdakwah, dimana walaupun beliau dalam rangka menjenguk orang sakit, akan tetapi beliau sempatkan untuk mendakwahi mereka.<br />
8.    Makna ucapan Nabi Isa -alaihishshalatu wassalam- dalam Al-Qur`an,<em> “Dia menjadikan aku berberkah dimanapun aku berada.”</em> Para ulama menafsirkan makna berkah, “Yakni Dia menjadikan aku sebagai pengajar kebaikan dimanapun aku berada.”<br />
9.    Bolehnya membacakan Al-Qur`an kepada orang kafir, maka berdasarkan hal ini dibolehkan juga meruqyah orang kafir.</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1691</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=28&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/haramnya-mengucapkan-salam-kepada-orang-kafir-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haramnya Mengucapkan Salam Kepada Orang Kafir</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/haramnya-mengucapkan-salam-kepada-orang-kafir/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/haramnya-mengucapkan-salam-kepada-orang-kafir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 08:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ “Janganlah kalian yang memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit.” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=26&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ</strong><br />
<em>“Janganlah kalian yang memulai mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit.” </em>(HR. Muslim no. 2167)<br />
Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu- dia berkata: Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ</strong><br />
<em>“Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah, “Wa ‘alaikum (dan juga atasmu).” </em>(HR. Al-Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163)<br />
Dari Usamah bin Zaid -radhiallahu ‘anhu- dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكِبَ حِمَارًا عَلَيْهِ إِكَافٌ تَحْتَهُ قَطِيفَةٌ فَدَكِيَّةٌ, وَأَرْدَفَ وَرَاءَهُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ -وَهُوَ يَعُودُ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ فِي بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ- وَذَلِكَ قَبْلَ وَقْعَةِ بَدْرٍ. حَتَّى مَرَّ فِي مَجْلِسٍ فِيهِ أَخْلَاطٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَالْيَهُودِ, وَفِيهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ وَفِي الْمَجْلِسِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ. فَلَمَّا غَشِيَتْ الْمَجْلِسَ عَجَاجَةُ الدَّابَّةِ, خَمَّرَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ أَنْفَهُ بِرِدَائِهِ ثُمَّ قَالَ: لَا تُغَبِّرُوا عَلَيْنَا. فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ وَقَفَ فَنَزَلَ فَدَعَاهُمْ إِلَى اللَّهِ وَقَرَأَ عَلَيْهِمْ الْقُرْآنَ</strong><br />
<em>“Bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengendarai keledai yang di atasnya ada pelana bersulam beludru Fadaki, sementara Usamah bin Zaid membonceng di belakang beliau ketika hendak menjenguk Sa’ad bin ‘Ubadah di Bani Al Harits Al Khazraj, dan peristiwa ini terjadi sebelum perang Badar. Beliau kemudian berjalan melewati suatu majelis yang di dalam majelis tersebut bercampur antara kaum muslimin, orang-orang musyrik, para penyembah patung, dan orang-orang Yahudi. Dan di dalam majelis tersebut terdapat pula Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abdullah bin Rawahah. Saat majlis itu dipenuhi kepulan debu hewan kendaraan, ‘Abdullah bin Ubay menutupi hidungnya dengan selendang sambil berkata, “Jangan mengepuli kami dengan debu.” Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengucapkan salam pada mereka lalu berhenti dan turun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka menuju Allah sambil membacakan Al-Qur’an kepada mereka.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 6254 dan Muslim no. 1798)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Ucapan salam merupakan ucapan penghormatan dan doa kepada kaum muslimin, karenanya kaum muslimin dilarang untuk mengucapkan salam kepada orang kafir, karena mereka dilarang untuk menghormati dan mendoakan orang kafir. Hanya saja sebagai bentuk keadilan yang diperintahkan oleh Allah, kapan mereka mengucapkan salam kepada kita maka kitapun menjawabnya, tapi dengan lafazh, “Wa ‘alaikum,” yakni: Untuk kamu juga yang semisal dengannya. Hanya saja hadits Usamah di atas menunjukkan bolehnya mengucapkan salam kepada sekelompok orang yang di antara mereka ada orang-orang muslim dan ada juga orang-orang kafir.</p>
<p><strong>Pelajaran tambahan dari dalil-dalil di atas:</strong><br />
1.    Disyariatkan mendesak orang-orang kafir ke pinggir jalan jika kita bertemu dengan mereka. Tentunya pengamalannya di zaman ini disesuaikan dengan pertimbangan maslahat dan mafsadat.<br />
2.    Bolehnya berboncengan di atas satu kendaraan, selama tidak memberatkan kendaraan/tunggangannya.<br />
3.    Tidak najisnya keledai jinak, walaupun dia haram untuk dimakan. Karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- menaiki keledai dan keledai termasuk hewan yang sering ada di tengah-tengah manusia dan mereka sulit untuk menjauh darinya. Dan kaidahnya: Semua hewan yang hidup di tengah-tengah manusia dan mereka sulit untuk menghindar darinya adalah suci. Ini terambil dari hadits Abu Qatadah riwayat Imam Empat ketika Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda tentang kucing:<br />
<strong>إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوْ الطَّوَّافَاتِ</strong><br />
<em>“Kucing tidaklah najis. Dia hanyalah merupakan hewan yang biasa berkeliaran di sekelilingmu.”</em><br />
Jadi beliau menyebutkan sebab tidak najisnya kucing karena dia seringa berada di sekitar kita.<br />
4.    Disyariatkannya mengunjungi kaum muslimin yang sakit, bahkan Nabi  menjadikan itu sebagai hak seorang muslim dari muslim lainnya.<br />
5.    Larangan menyayangi dan berloyal kepada orang-orang kafir tidak mengharuskan kita tidak boleh bergaul dan berbaur dengan mereka. Di sini Nabi -alaihishshalatu wassalam- tidak mengingkari berkumpulnya sebagian kaum muslimin dengan orang-orang musyrikin.<br />
6.    Sikap pemaaf Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada orang-orang yang jahil.<br />
7.    Semangat beliau -alaihishshalatu wassalam- dalam berdakwah, dimana walaupun beliau dalam rangka menjenguk orang sakit, akan tetapi beliau sempatkan untuk mendakwahi mereka.<br />
8.    Makna ucapan Nabi Isa -alaihishshalatu wassalam- dalam Al-Qur`an,<em> “Dia menjadikan aku berberkah dimanapun aku berada.”</em> Para ulama menafsirkan makna berkah, “Yakni Dia menjadikan aku sebagai pengajar kebaikan dimanapun aku berada.”<br />
9.    Bolehnya membacakan Al-Qur`an kepada orang kafir, maka berdasarkan hal ini dibolehkan juga meruqyah orang kafir.</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1691</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=26&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/haramnya-mengucapkan-salam-kepada-orang-kafir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Najis &amp; Hukum Hewan Air yang Juga Hidup di Darat</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/air-najis-hukum-hewan-air-yang-juga-hidup-di-darat/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/air-najis-hukum-hewan-air-yang-juga-hidup-di-darat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 03:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ “Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=20&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong><strong> </strong></p>
<p>Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ</strong><br />
<em>“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dia berkata, “Wahai Rasulullah, kami orang yang sering berlayar di lautan dan kami biasa hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya maka kami akan kehausan, karenanya apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjawab: “Dia (laut) adalah penyuci airnya dan halal bangkainya.”</em> (HR. Abu Daud no. 83, At-Tirmizi no. 66, An-Nasai no. 59, Ibnu Majah no. 380, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil no. 9)<br />
Dari Abu Sa’id Al Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ</strong><br />
<em>“Pernah ditanyakan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Bolehkah kita berwudhu dari sumur Budha’ah? Yaitu sumur yang sering masuk ke dalamnya darah haid, daging anjing, dan sesuatu yang berbau busuk.” Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjawab, “Air itu penyuci, tidak ada sesuatu pun yang dapat menjadikannya najis.”</em> (HR. Abu Daud no. 66, At-Tirmizi no.69, An-Nasai no. 324, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 14)</p>
<p><strong>Penjelasan Fiqhiah: </strong><br />
Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- berkata tentang hadits Abu Hurairah di atas“Hadits ini adalah setengah ilmu thaharah.” Dinukil dalam Al-Majmu’ (1/129) Dan Ibnu Al-Mulaqqin juga berkata dalam Al-Badr Al-Munir (2/140), “Hadits ini adalah hadits yang agung, landasan dalam ilmu thaharah, berisi hukum yang sangat banyak dan kaidah-kaidah yang penting.”<br />
1.    Perlu diketahui bahwa walaupun hadits  Abu Hurairah berbicara tentang laut, akan tetapi kata البحر pada hadits tersebut mencakup laut, danau, sungai, dan semacamnya dari air-air yang jumlahnya mustabhir (melaut/sangat banyak).<br />
Ibnu Al-Mulaqqin berkata dalam Al-Badr Al-Munir (2/40), “Al-bahr adalah air yang sangat banyak, baik yang asin maupun yang tawar.” Lihat Subul As-Salam: 1/14-15 dan Aun Al-Ma’bud: 1/152.</p>
<p>2.    Dari kedua hadits di atas, para ulama berbeda pendapat mengenai pembagian air, apakah dia terbagi menjadi tiga atau terbagi menjadi dua:<br />
a.    Mayoritas ulama berpendapat bahwa air terbagi menjadi tiga: Thahur (suci lagi menyucikan), thahir (suci tapi tidak menyucikan), dan najis. Di antara dalil mereka adalah hadits Abu Hurairah di atas.<br />
Sisi pendalilannya: Para sahabat mengetahui kalau air laut itu bukan najis, kalau begitu tidak diragukan kalau mereka meyakini bahwa air laut itu suci. Akan tetapi bersamaan dengan itu mereka tetap bertanya kepada Nabi -alaihishshalatu wassalam- apakah dia bisa dipakai bersuci/menyucikan atau tidak? Maka ini menunjukkan bahwa para sahabat membedakan antara air yang thahir dan air yang thahur.<br />
b.    Pendapat yang kedua menyatakan bahwa air itu hanya ada dua jenis: Thahur (suci dan menyucikan) dan najis. Ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan di antara dalil mereka adalah hadits Abu Said di atas.<br />
Sisi pendalilannya: Hadits di atas menetapkan salah satu jenis air yaitu air yang thahur, dan ijma’ juga menetapkan adanya air yang najis. Maka inilah dua jenis air yang ditetapkan oleh nash, adapun air thahir (suci tapi tidak menyucikan), maka tidak ada dalil shahih lagi tegas yang menetapkannya. Atau dikatakan: Air itu -sebagaimana yang disifati dalam hadits di atas- selalu dalam keadaan thahur, sehingga kapan ada air maka hukumnya adalah thahur kecuali ada dalil yang mengecualikannya. Dan dalil hanya mengecualikan air yang najis, yaitu yang berubah salah satu dari 3 sifatnya karena najis yang masuk ke dalamnya.<br />
Tarjih:<br />
Yang rajih -insya Allah- adalah pendapat Imam Ahmad, yang menyatakan bahwa air itu hanya ada dua jenis. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiah, dan Asy-Syaukani -rahimahumullah-.<br />
Adapun dalil pendapat pertama bisa disanggah dari 3 sisi:<br />
1.  Yang mengalami kejadian ini hanyalah sebagian kecil sahabat (yang berlayar), maka bagaimana bisa pemahaman mereka bisa disama ratakan dengan semua sahabat. Maksudnya, anggaplah para sahabat yang berlayar ini memahami adanya air yang thahir tapi tidak thahur, namun apakah bisa kita katakan kalau pemahaman seperti ini juga dipahami oleh seluruh sahabat? Maka dari sisi ini masih perlu ditinjau kembali.<br />
2.    Ada kemungkinan sahabat ini mempertanyakan hukum air laut karena mereka mengetahui adanya sebagian sahabat yang tidak senang bersuci dengan air laut, sehingga tujuan mereka bertanya di sini adalah untuk mengetahui mana yang benar dalam masalah ini.<br />
3.    Nabi  tegas menyatakan bahwa air laut itu suci, padahal air laut telah mengalami perubahan karena masuknya benda suci ke dalamnya. Sementara mereka (mayoritas ulama) berdalil dengan keraguan sebagian sahabat apakah air laut itu thahur, dan keraguan mereka ini timbul karena mereka melihat air laut ini berbeda dari air pada umumnya, baik dalam hal warna, bau, dan rasanya akibat benda suci yang masuk ke dalamnya. Maka berdalil dengan ucapan Nabi -alaihishshalatu wassalam- tentu saja lebih utama dibandingkan berdalil dengan keraguan sebagian sahabat.<br />
[Ahkam Ath-Thaharah jilid 1 hal. 51-94]</p>
<p>3.    Hadits Abu Hurairah di atas jelas menunjukkan bahwa air laut bisa dipakai untuk bersuci secara mutlak. Ini merupakan mazhab Imam Empat dan juga merupakan pendapat Ibnu Hazm. Karenya pendapat yang menyatakan dilarangnya bersuci dengan air laut adalah pendapat yang tertolak, walaupun pendapat ini telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr bin Al-Ash. (Sunan At-Tirmizi no. 69)<br />
Karenanya air yang bercampur dengan sesuatu yang asin, baik sesuatu itu bentuknya cair maupun padat (garam), baik dicampurkan dengan sengaja maupun tidak, air yang seperti ini juga tetap boleh dipakai bersuci sebagaimana halnya air laut. Ini adalah mazhab Al-Hanafiah, Al-Malikiah, dan pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Taimiah dalam Majmu’ Al-Fatawa (21/24)</p>
<p>4.    Hadits itu Juga menunjukkan bahwa air al-ajin syah dipakai untuk bersuci. Air al-ajin adalah air yang mengalami perubahan sifat karena lamanya dia berdiam pada suatu tempat.<br />
Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Dari hadits ini juga dipetik pelajaran bahwa jika sifat sebuah air berubah karena lamanya dia berada pada suatu tempat, maka perubahan itu tidak berpengaruh padanya (yakni: Tetap bisa menyucikan).” Fath Zil Jalali wal Ikram (1/45) Semisal dengannya air yang tinggal lama di dalam gentong atau bak yang tertutup sehingga salah satu dari sifatnya berubah.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Adapun air yang berubah sifatnya karena lamanya dia berdiam dan menetap di suatu wadah/tempat, maka dia tetap berada di atas sifat thahurnya (penyuci), berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Al-Fatawa Al-Kubra: 1/6)<br />
Nukilan ijma’ juga dinukil oleh Ibnu Al-Mundzir dalam Al-Ausath (1/259) dan Ibnu Muflih dalam Al-Mubdi’ (1/36) hal. 121-124</p>
<p>5.    Hadits itu juga menunjukkan thahurnya (bisa dipakai bersuci) air yang panas, baik yang terkena panas matahari tanpa disengaja (seperti air sungai, air laut, dan semacamnya) maupun air yang sengaja dipanaskan, baik dipanaskan dengan sinar matahari maupun dengan cara direbus. Dan ini adalah hal yang disepakati oleh para ulama, walaupun mereka berbeda pendapat dalam hal apakah makruh atau tidak?<br />
Yang benarnya dia tidaklah makruh digunakan karena semua hadits yang dipakai ulama yang memakruhkannya adalah lemah. Ini adalah mazhab Al-Hanabilah dan Azh-Zhahiriah, serta yang dirajihkan oleh Imam An-Nawawi -rahimahumullah-. Hal.397-400</p>
<p>6.    Tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- menyatakan air laut itu adalah penyuci padahal terkadang sifatnya berubah dikarenakan adanya zat-zat suci yang masuk ke dalamnya, maka ini menunjukkan bahwa jika ada air yang kemasukan benda suci lalu benda tersebut tidak menghilangkan penamaannya sebagai ‘air’ -walaupun telah merubah sifat air tersebut-, maka air ini tetap bisa dipakai bersuci.<br />
Ini adalah mazhab Al-Hanafiah, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla masalah no. 147 dan Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (21/24). Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits Abu Said di atas yang menunjukkan semua air itu thahur (penyuci) dan juga hadits Ummu Hani` dimana dia berkata, <em>“Nabi  dan Maimunah pernah mandi bersama dari satu baskom yang di dalamnya terdapat bekas adonan tepung.”</em> (HR. Ahmad: 6/341,342). Dan juga hadits Ibnu Abbas dan hadits Ummu Athiyah yang keduanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, yang pada keduanya disebutkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan untuk memandikan jenazah dengan air yang dicampur dengan daun bidara. Bahkan dalam hadits Ummu Athiyah, beliau memerintahkan untuk menambahkan kapur ke dalam air tersebut. Dan sudah dimaklumi bahwa bidara dan kapur pasti akan merubah bau, rasa, dan warna air tersebut -terlebih lagi jika airnya tidak terlalu banyak-, akan tetapi bersamaan dengan itu Nabi -alaihishshalatu wassalam- tetap menggunakannya untuk mandi junub dan memerintahkan untuk memandikan jenazah dengannya.</p>
<p>7.    Imam Al-Khathathabi berkata dalam menjelaskan hadits Abu Said di atas dalam Ma’alim As-Sunan (1/72), “Mungkin banyak orang yang akan menyangka -jika dia mendengar hadits ini- bahwa hal itu (membuang najis ke dalam sumur) merupakan kebiasaan mereka dan bahwa mereka melakukannya secara sadar dan sengaja. Padahal sangkaan seperti ini tidak boleh disangkakan kepada kafir zimmi bahkan tidak pula kepada penyembah berhala, terlebih lagi mau disangkakan pada seorang muslim. Hal itu karena sudah menjadi adat orang-orang Arab -baik yang muslim maupun yang kafir- dari dahulu hingga sekarang untuk senantiasa membersihkan dan menjaga air jangan sampai terkena najis. Maka bagaimana bisa hal ini disangkakan kepada manusia di zaman itu (para sahabat), padahal mereka adalah penghuni tingkatan tertinggi dalam agama dan jamaah kaum muslimin yang paling utama. Apalagi air di negeri mereka sulit ditemukan dan kebutuhan mereka terhadapnya sangat mendesak, maka bagaimana mungkin mereka memperlakukan dan menghinakan air seperti itu. Sungguh Rasulullah  telah melaknat orang yang buang air di tempat-tempat berkumpul dan mengalirnya air, maka bagaimana lagi dengan mereka yang menjadikan mata-mata air dan tempat-tempat berkumpulnya air sebagai tempat penampungan najis dan tempat untuk melemparkan kotoran?! Tentu saja hal ini tidak sejalan dengan kebiasaan mereka.<br />
Hanya saja apa yang tersebut dalam hadits itu bisa terjadi karena sumur budha’ah ini terletak di tempat yang rendah, sehingga aliran air membawa kotoran dari jalanan dan halaman/tanah lapang yang ada lalu air tersebut menyeret dan menjatuhkan kotoran tersebut ke dalam sumur itu. AKan tetapi tatkala air yang terdapat dalam sumur itu sangat banyak maka kotoran yang jatuh ke dalamnya tidaklah mempengaruhi dan merubahnya.” Lihat juga Tuhfah Al-Ahwadzi (1/170)</p>
<p>8.    Berdasarkan keterangan di atas maka jika ada air yang jumlahnya mustabhir (sangat banyak) lalu dia kemasukan najis maka air tersebut tetap suci dan najis yang masuk ke dalamnya tidaklah memperngaruhi dan merubahnya. Semisal air danau, air sungai, air rawa, dan semacamnya. Ibnu Daqiq Al-Id berkata dalam Al-Ihkam (1/126-127) tentang hadits yang melarang kencing di dalam air yang tidak mengalir, “Ketahuilah bahwa makna hadits ini harus dikeluarkan dari makna lahiriahnya dengan pengkhususan atau pembatasan. Karena para ulama telah bersepakat bahwa air yang jumlahnya mustabhir lagi sangat banyak junlahnya, najis tidak bisa mempengaruhinya.” Ijma’ juga dinukil oleh Ibnu Al-Mundzir dalam Al-Ausath (1/260-261)</p>
<p>9.    Juga berdasarkan keterangan dalam hadits Abu Said di atas bisa kita katakan bahwa jika ada air -sedikit maupun banyak- yang kemasukan najis akan tetapi tidak merubah salah satu dari ketiga sifatnya maka air itu tetap suci lagi menyucikan. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Al-Mundzir.</p>
<p>10.    Hadits Abu Said di atas dikhususkan oleh ijma’ yang menyatakan adanya air yang najis. Para ulama telah bersepakat bahwa jika air kemasukan najis lantas najis tersebut merubah salah satu dari ketiga sifat air tersebut -yakni baunya, rasanya, dan warnanya-, maka air tersebut menjadi air yang najis. Di antara para ulama yang menukil ijma’ ini adalah: Asy-Syafi’i dalam Al-Umm (8/612), Al-Baihaqi dalam As-Sunan (1/260), Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan (4/59), Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar (1/12), Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/332), Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (1/1/31), An-Nawawi dalam Al-Mamu’ (1/212), Ibnu Taimiah dalam Al-Fatawa (21/504), Ibnu Al-Mundzir dalam Al-Ausath (1/260), Ibnu Al-Qayyim dalam  Tahdzib As-Sunan (1/67), dan Al-Iraqi dalam Tharh At-Tatsrib (2/32)<br />
Karenanya hukum asal air itu suci dan tidak ada sesuatu yang bisa menajisinya kecuali jika ada najis yang masuk ke dalamnya lalu bau atau rasa atau warnanya berubah, maka air tersebut berubah menjadi najis.</p>
<p>11.    Hadits Abu Hurairah di atas tegas menunjukkan bahwa semua hewan laut adalah halal untuk dimakan baik dia masih hidup lalu disembelih maupun dia ditemukan sudah mati (bangkai). Dan telah kami sebutkan di atas bahwa kata laut di sini juga mencakup danau, sungai, dan semacamnya yang airnya berjumlah sangat banyak.<br />
Adapun hewan air tapi juga bisa hidup di darat, maka berikut kami nukilkan pembahasan Asy-Syaikh Saleh Al-Fauzan dalam kitab Al-Ath’imah:<br />
Masalah ketiga: Hukum memakan hewan yang hidup di daratan dan lautan.<br />
Adapun hewan air yang hidup di darat seperti kodok, kura-kura, kepiting dan penyu, maka mereka berselisih dalam penghalalannya:<br />
Imam Malik berpendapat halalnya secara mutlak berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut,” dan selain binatang buruannya, tidak ada makanan dari laut kecuali bangkainya, sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ulama. Juga sabda beliau , “<em>Laut itu penyuci airnya dan halal bangkainya,” </em>dalam hadits ini ada penegasan bahwa bangkai laut adalah halal, sehingga dia mencakup semua bangkai yang ada di laut. [Tafsir Asy-Syinqithi (1/91-93) secara ringkas dan lihat juga Asy-Syarhil Kabir karya Ad-Dardir (2/115)]<br />
An-Nawawi menukil (Al-Majmu’: 9/32-33) bahwa yang shahih dan menjadi patokan dalam mazhab Asy-Syafi’iyah adalah halalnya bangkai semua yang hidup di air kecuali kodok. Adapun apa yang disebutkan oleh al-ashhab (penganut mazhabnya) atau sebagiannya bahwa kura-kura, ular laut dan kera air haram, maka itu diarahkan jika dia mati di air selain air laut. Burung air seperti bebek, angsa dan semisalnya adalah halal -sebagaimana yang telah berlalu- tapi bangkainya tidak halal tanpa ada perselisihan, bahkan disyaratkan dia harus disembelih. Pengarang Mughnil Muhtaj menambahkan dengan mengatakan, “Ini didukung oleh ucapan Asy-Syamil setelah dia membawakan nash-nash yang menghalalkannya, “Ashhab kami atau sebagiannya mengatakan: Semua yang ada padanya adalah halal kecuali kodok karena adanya larangan untuk membunuhnya.”<br />
Adapun pendapat Al-Hanabilah dalam masalah ini, maka sebagaimana yang pengarang Al-Mughni (beserta Asy-Syarh Al-Kabir: 11/83) nukilkan untuk kita dengan ucapannya, “Semua hewan laut yang hidup di darat hukumnya tidak halal untuk dimakan tanpa disembelih terlebih dahulu, seperti burung-burung air, kura-kura dan anjing laut, kecuali yang tidak mempunyai darah seperti kepiting, maka dia halal untuk dimakan tanpa perlu disembelih.” Selesai<br />
Adapun Al-Hanafiah maka mazhab mereka dibawakan oleh pengarang Bada`i’ Ash-Shana`i’ (5/35) ketika dia berkata, “Semua hewan yang hidup di laut haram untuk dimakan kecuali ikan karena dia halal untuk dimakan, kecuali ath-thafi. Ini adalah pendapat ashhab kami .”<br />
Maka dari pemaparan yang ringkas ini, kita bisa menarik kesimpulan mengenai pendapat-pendapat keempat mazhab dalam masalah hukum memakan hewan laut yang hidup di darat sebagai berikut:<br />
1.    Menurut Al-Malikiah, dia halal secara mutlak.<br />
2.     Menurut Asy-Syafi’iyah, halal secara mutlak kecuali kodok dan juga kecuali burung air, karena dia tidak halal tanpa penyembelihan.<br />
3.    Menurut Al-Hanabilah, tidak halal secara mutlak kalau tanpa penyembelihan, selain kepiting karena dia tidak mempunyai darah.<br />
4.    Menurut Al-Hanafiah, semuanya tidak halal kecuali ikan.<br />
[Selesai dari kitab Al-Ath’imah pada bab kedua, pembahasan kedua, masalah ketiga]<br />
Kami katakan: Yang lebih kuat adalah pendapat Asy-Syafi’iyah yang menyatakan halalnya memakan semua hewan air yang juga hidup di darat kecuali kodok karena adanya larangan untuk membunuhnya (HR. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasai). Adapun burung air -seperti bebek dan angsa-, maka dia tidak boleh dimakan kecuali setelah di sembelih.</p>
<p>12.    Pelajaran lain yang terdapat pada hadits Abu Hurairah di atas:<br />
a.    Bolehnya berlayar mengarungi lautan, kecuali jika ada bahaya yang mengancam di lautan berupa perompak atau cuaca yang buruk.<br />
b.    Jika seorang musafir tidak mempunyai air kecuali yang untuk dia minum, maka dia bolehg bertayammum ketika akan mengerjakan shalat.<br />
c.    Disyariatkan seorang mufti (pemberi fatwa) atau alim agar melebihkan jawaban dari pertanyaan penanya jika dia melihat ada maslahat di baliknya. Tatkala sahabat ini bertanya tentang hukum air laut, maka beliau menjawab pertanyaannya dan menambahkan tentang hukum bangkai laut, karena mereka sering berlayar sehingga sangat membutuhkan hukum tentang bangkai laut.</p>
<p>Demikian pembahasan ringkas mengenai kedua hadits di atas, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1750</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=20&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/air-najis-hukum-hewan-air-yang-juga-hidup-di-darat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Haid dan Lelaki</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/antara-haid-dan-lelaki/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/antara-haid-dan-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 03:39:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman: وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ “Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=17&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:<br />
<strong>وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ</strong><br />
<em>“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” </em>(QS. Al-Baqarah: 222)<br />
Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ أَوْ أَتَى امْرَأَةً حَائِضًا أَوْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ</strong><br />
<em>“Barangsiapa mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang dia katakan, atau mendatangi seorang wanita yang sedang haid, atau mendatangi (jima’ dengan) wanita lewat duburnya, maka dia telah berlepas diri dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.”</em> (HR. Abu Daud no. 3405 dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah  no. 1294)<br />
Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:<br />
<strong>كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاشِرَهَا أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِي فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا. قَالَتْ: وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ</strong><br />
<em>“Jika salah seorang dari kami (istri-istri Nabi) sedang mengalami haid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan untuk bermesraan dengannya, maka beliau menyuruhnya  untuk mengenakan sarung guna menutupi tempat keluarnya darah haid (kemaluan), lalu beliau pun mencumbuinya.” Aisyah berkata, “Hanya saja, siapakah di antara kalian yang mampu menahan hasratnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 302)<br />
Dari Ummu Salamah -radhiallahu anha- dia berkata:<br />
<strong>بَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعَةٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمِيلَةِ إِذْ حِضْتُ, فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَدَعَانِي فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ<br />
</strong><em>“Ketika aku berbaring bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid, lantas aku keluar secara perlahan-lahan untuk mengambil pakaian khusus untuk masa haid. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Apakah kamu sedang nifas (haid)?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu beliau memanggilku, lalu aku berbaring lagi bersama beliau dalam satu selimut.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 298 dan Muslim no. 444)<br />
<strong>Pembahasan Fiqhiah:</strong><br />
Walaupun haid merupakan ketetapan Allah yang khusus mengenai wanita, akan tetapi ini tidak berarti lelaki boleh lalai dan tidak peduli terhadap hukum-hukum wanita yang haid. Hal itu karena di antara hukum-hukum tersebut ada yang berkenaan dengan dirinya, terkhusus jika dia adalah seorang suami yang tentu saja istrinya akan mengalami haid setiap bulannya. Maka penting sekali baginya untuk mengetahui hukum-hukum haid dengan alasan yang kami sebutkan tadi, dan agar ketika ada masalah mengenai haid istrinya maka istrinya tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk bertanya kepada orang lain.</p>
<p>Di antara hukum-hukum haid yang berkaitan dengan lelaki adalah:<br />
1.    Dilarang melakukan hubungan intim (jima’) dengan wanita yang tengah haid, dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama.</p>
<p>2.    Barangsiapa yang melanggar maka:<br />
a.    Jika dia menghalalkan perbuatannya tersebut maka dia kafir keluar dari Islam.<br />
b.    Jika dia tidak menghalalkannya maka padanya ada dua keadaan:<br />
1.    Dia melakukannya karena lupa atau tidak tahu akan keharamannya. Maka orang seperti ini mendapatkan uzur dan tidak berdosa.<br />
2.    Dia melakukannya dengan sengaja, maka yang seperti dia telah melakukan dosa besar berdasarkan ijma’.</p>
<p>3.    Bagi yang melakukannya dengan sengaja, para ulama berbeda pendapat mengenai: Apakah ada kaffarat yang harus dibayar oleh suami ataukah tidak?<br />
Dalam masalah ini ada hadits yang bisa menuntaskan perbedaan pendapat ini, yaitu hadits Ibnu Abbas dia berkata:<br />
<strong>أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ</strong><br />
<em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh orang yang mendatangi isterinya dalam keadaan haid untuk bersedekah dengan satu dinar atau setengahnya.” </em>(HR. Ahmad no. 2015 dan Abu Daud no. 230)<br />
Bagi yang melemahkan riwayat ini -seperti Asy-Syaikh Muqbil- maka tentunya dia akan berpendapat bahwa tidak ada kaffarat bagi yang melanggar. Sementara bagi yang menshahihkannya -seperti Asy-Syaikh Al-Albani- maka dia akan berpendapat adanya kaffarat bagi yang melanggar, dan besarnya sesuai dengan yang tersebut dalam hadits. Dan sementara ini kami lebih condong kepada pendapat yang menyatakan shahihnya hadits ini, wallahu a’lam. Karenanya kami menyatakan bahwa orang yang melanggar larangan ini wajib untuk membayar kaffarat.</p>
<p>4.    Kaffaratnya adalah bersedekah, yang mana besarnya bisa dipilih antara 1 dinar atau setengah dinar, dan satu dinar setara dengan 4,25 gram emas. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.</p>
<p>5.    Apakah kaffarat ini hanya dikenakan bagi lelaki, ataukah juga dikenakan atas wanita?<br />
Jawab: Dalam hal ini ada rincian:<br />
a.    Jika si wanita dipaksa dan tidak punya pilihan lain maka dia tidak berdosa dan juga tidak bayar kaffarat.<br />
b.    Jika si wanita tidak dipaksa tapi menurut begitu saja maka dia juga wajib membayar kaffarat bersama sang lelaki. Dimana masing-masing mereka membayar 1 dinar atau setengah dinar.<br />
Ini merpakan pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumallah-.</p>
<p>6.    Dilarang melakukan jima’ dengan wanita yang sudah bersih dari haid akan tetapi dia belum mandi bersih. Ini merupakan pendapat yang paling kuat di kalangan ulama berdasarkan ayat di atas, <em>“Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” </em>Maka Allah membolehkan jima’ dengan wanita haid dengan syarat mereka telah bersuci, bukan sekedar berhentinya haid.</p>
<p>7.    Lebih besar lagi dosanya jika dia melakukan jima’ dengan wanita yang haid dari duburnya, karena dia telah mengumpulkan dua dosa besar dalam satu amalan.</p>
<p>8.    Adapun mengenai hukum bermesraan dengan wanita yang haid, maka di sini ada dua keadaan:<br />
a.    Jika bermesraannya pada bagian di atas pusar dan atau di bawah lutut, maka para ulama sepakat akan bolehnya. Ini berdasarkan ayat di atas, <em>“Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan),” </em>dimana Allah hanya menyuruh untuk menjauhi kemaluan. Dan juga berdasarkan hadits Aisyah di atas, dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan untuk menutupi bagian kemaluan istrinya dengan sarung.<br />
b.    Bermesraan pada bagian antara lutut dan pusar, maka di sini ada 3 pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang paling tepat adalah pendapat Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Athiyah, Asy-Sya’bi, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Ats-Tsauri, Ishaq, Al-Auzai,  Daud, dan merupakan mazhab Al-Malikiah, Asy-Syafi’iyah, dan pendapat Imam Ahmad, serta yang dikuatkan oleh Imam Ibnul Mundzir. Mereka menyatakan bolehnya melakukan apa saja dengan wanita haid kecuali jima’, yakni bertemunya dua yang dikhitan. Karenanya dibolehkan bermesraan dengan wanita haid pada bagian antara lutut dan pusar dengan syarat kedua kemaluan tidak bertemu.<br />
Di antara dalilnya adalah ayat di atas, dimana yang disuruh jauhi hanyalah kemaluan. Juga berdasarkan hadits Aisyah di atas dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan untuk hanya menutupi bagian kemaluan. Dan yang lebih tegas dari itu adalah hadits Anas bin Malik dimana Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:<br />
<strong>اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا النِّكَاحَ</strong><br />
<em>“Perbuatlah segala sesuatu kecuali nikah,” </em>(HR. Muslim no. 455) yakni: Jima’.<br />
Catatan:<br />
Walaupun hal ini dibolehkan, akan tetapi bagi yang mengkhawatirkan dirinya bisa terjatuh melakukan jima’, maka hendaknya dia tidak bermesraan dengan istrinya di masa haid. Ini berdasarkan isyarat dari ucapan Aisyah -radhiallahu anha-, <em>“Hanya saja, siapakah di antara kalian yang mampu menahan hasratnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan.”</em></p>
<p>9.    Bolehnya tidur dan berbaring bersama wanita yang tengah haid di dalam satu selimut. Sebagaimana dibolehkannya duduk dan makan bersama mereka.</p>
<p>Di antara pelajaran yang bisa dipetik dari dalil-dalil di atas adalah:<br />
a.    Sikap kehati-hatian dari Rasulullah  dan bahwa beliau adalah manusia yang paling kuat menahan syahwatnya.<br />
b.    Haramnya mendatangi dukun lalu membenarkan ucapan mereka, bahkan hal ini termasuk perbuatan kekafiran.<br />
c.    Hendaknya seorang wanita mempunyai satu pakaian yang khusus dia pakai ketika dia haid.<br />
d.    Dari ucapan Nabi -alaihishshalatu wassalam-, <em>“Apakah kamu sedang nifas (haid)?” </em>Para ulama bersepakat bahwa hukum nifas sama seperti haid, karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- sudah tahu kalau Ummu Salamah haid tapi bersaman dengan itu beliau bertanya, <em>“Apakah kamu sedang nifas?”. </em>Kesamaan hukum antara nifas dan haid ini pada seluruh masalah kecuali dalam segelintir masalah yang para ulama sebutkan. Ini telah kami paparkan dalam hukum-hukum haid.</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1861</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=17&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/antara-haid-dan-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Muazzin</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/keutamaan-muazzin/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/keutamaan-muazzin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 03:38:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Dari Muawiah bin Abi Sufyan -radhiallahu anhu- dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda: الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Orang-orang yang azan (muazzin) adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 387) Yakni tatkala manusia sudah berdesak-desakan dan ketika keringat-keringat manusia sudah membanjiri mereka, bahkan ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=15&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Dari Muawiah bin Abi Sufyan -radhiallahu anhu- dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ</strong><br />
<em>“Orang-orang yang azan (muazzin) adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” </em>(HR. Muslim no. 387)<br />
Yakni tatkala manusia sudah berdesak-desakan dan ketika keringat-keringat manusia sudah membanjiri mereka, bahkan ada yang keringatnya setinggi mulutnya. Maka muazzin selamat dari semua itu karena lehernya yang panjang. (Syarh Muslim: 4/333 karya An-Nawawi)<br />
Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- pernah berkata kepada Abdullah bin Abdirrahman bin Abi Sha’sha’ah Al-Anshari:<br />
<strong>إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ<br />
</strong><em>“Saya perhatikan kamu sangat menyukai kambing dan kampung. Karenanya jika kamu sedang bersama kambingmu atau sedang berada di kampungmu lalu kamu mengumandangkan azan untuk melaksanakan shalat, maka tinggikanlah suaramu ketika azan. Karena sesungguhnya tidaklah suara muazzin itu didengarkan oleh jin, manusia, dan yang lainnya melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat. Kemudian Abu Said berkata, “Saya mendengarkan (hadits) ini dari Rasulullah shalallahu alaihi wa alihi wasallam.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 87)<br />
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda :<br />
<strong>لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا</strong><br />
<em>“Kalau seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada panggilan (azan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya. Dan kalaulah mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan karena bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya). Dan kalaulah seandainya mereka mengetahui besarnya pahala yang akan didapatkan dengan mengerjakan shalat isya dan subuh, maka  pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 437)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Di antara keutamaan azan lainnya adalah:<br />
1.    Allah Ta’ala berfirman, <em>“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri.” </em>(QS. Fushshilat: 33)<br />
2.    Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى</strong><br />
<em>“Apabila azan dikumandangkan maka setan akan lari sambil kentut hingga dia tidak mendengarkan azan lagi. Ketika azan sudah selesai maka dia kembali lagi. Ketika qomat dikumandangkan untuk shalat dia kembali pergi, ketika qamat sudah selesai dia kembali lagi hingga dia bisa mengganggu hati orang yang shalat. Dia mengatakan, “Ingatlah ini, ingatlah itu,” yang mana hal tersebut tidak teringat olehnya sebelum shalat. Sehingga akhirnya seseorang tidak menyadari lagi sudah berapa raka’atkah shalatnya.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 389)<br />
3.    Dari Al-Barra’ bin ‘Azib -radhiallahu anhu- bahwasanya Nabi -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ وَالْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيُصَدِّقُهُ مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَطْبٍ وَيَابِسٍ وَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ</strong><br />
<em>“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat untuk orang-orang yang berada di shaf yang terdepan. Muazzin akan diampuni dosanya sepanjang suaranya, dan dia akan dibenarkan oleh segala sesuatu yang mendengarkannya, baik benda basah maupun benda kering, dan dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang shalat bersamanya”. </em>(HR. An-Nasai no. 646, Ahmad: 4/284, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib: 1/99)<br />
4.    Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda:<br />
<strong>الْإِمَامُ ضَامِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْتَمَنٌ اللَّهُمَّ أَرْشِدْ الْأَئِمَّةَ وَاغْفِرْ لِلْمُؤَذِّنِينَ</strong><br />
<em>“Seorang imam adalah penjamin (pelaksanaan shalat) dan muazzin adalah orang yang diberikan kepercayaan untuk menjaganya. Ya Allah tunjukilah para imam dan berilah ampunan untuk para muazzin.”</em> (HR. Abu Daud no. 517, At-Tirmizi no. 191, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib : 1/100)<br />
5.    Dari Ibnu ‘Umar -radhiallahu anhu- bahwasanya Rasulullah -shalallahu alaihi wa alihi wasallam- bersabda :<br />
<strong>مَنْ أَذَّنَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَكُتِبَ لَهُ بِتَأْذِينِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ سِتُّونَ حَسَنَةً وَلِكُلِّ إِقَامَةٍ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً</strong><br />
<em>“Barangsiapa mengumandangkan adzan selama dua belas tahun, maka wajib baginya surga, Dan dengan adzannya, dalam setiap harinya akan dituliskan enam puluh kebaikan, dan tiga puluh kebaikan untuk setiap iqamah yang ia lakukan.” </em>(HR. Ibnu Majah no. 723 dan dinyatakan shahih oleh Albani dalam Silsilah Hadits Shahih no.  42 dan Shahih Ibnu Majah: 1/226)</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1885</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=15&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/keutamaan-muazzin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Larangan Jual Beli dan Meludah Dalam Masjid</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/larangan-jual-beli-dan-meludah-dalam-masjid/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/larangan-jual-beli-dan-meludah-dalam-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 01:45:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=12&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا</strong><br />
<em>“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat ada dahak di dinding kiblat, maka beliau merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda, “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan kiblat. Maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi hendaknya dia membuang dahaknya ke arah kirinya atau di bawah kedua kakinya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau mengosokkannya kepada bagian kainnya yang lain, lalu beliau bersabda, “Atau hendaknya dia melakukan seperti ini.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 507 dan Muslim no. 550)<br />
Anas bin Malik  berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا</strong><br />
<em>“Meludah di dalam masjid adalah suatu kesalahan, dan kaffarahnya (penghapus dosanya) adalah menimbunnya.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 511 dan Muslim no. 552)<br />
Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:<br />
<strong>إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا لَا رَدَّ اللَّهُ عَلَيْكَ</strong><br />
<em>“Jika kalian melihat orang membeli atau menjual di dalam masjid, maka katakanlah, “Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada barang daganganmu.” Jika kalian melihat orang yang mencari sesuatu yang hilang di dalamnya maka katakanlah, “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.”</em> (HR. At-Tirmizi no. 1321 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 573)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Tujuan masjid dibangun hanyalah untuk  shalat, zikir, dan beribadah kepada Allah. Dan dia merupakan bagian bumi yang paling Allah cintai. Karenanya ketika seorang berada di dalam masjid maka dia diharuskan untuk beradab dengan adab-adab islami yang telah dituntunkan oleh Rasulullah . Dan di antara adab tersebut adalah Nabi -alaihishshalatu wassalam- memerintahkan agar menyucikan masjid dari semua perkara yang tidak berhubungan dengan tujuan dia dibangun, misalnya membuang kotoran dan berjual beli di dalamnya.</p>
<p>Berikut beberapa masalah yang dipetik dari hadits-hadits di atas secara berurut:<br />
1.    Tingginya kecemburuan Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada agama Allah, dimana beliau tidak merasa nyaman ketika ada kotoran yang terdapat dalam masjid.</p>
<p>2.    Wajib bagi seorang imam masjid untuk mengingkari kemungkaran yang terjadi di dalam masjid yang dia imami, karena itu termasuk dalam lingkup tanggung jawabnya.</p>
<p>3.    Dalam hadits ini, Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah mengumpulkan ketiga jenis nahi mungkar: Dengan hati beliau tatkala beliau jengkel dan tidak senang dengannya, dengan lisan tatkala beliau menasehati dan melarang para sahabat, dan dengan tangan tatkala beliau membersihkan sendiri dahak yang ada di masjid. Dan beliau juga mengumpulkan dua jenis pengajaran: Dengan teori dan dengan praktek.</p>
<p>4.    Hukum meludah ke arah kiblat di dalam shalat adalah haram berdasarkan larangan Nabi -alaihishshalatu wassalam-, <em>“Maka janganlah dia meludah ke arah kiblat.” </em>Karena hukum asal larangan adalah haram kecuali ada dalil yang memalingkan hukumnya.</p>
<p>5.    Sudah menjadi kaidah tetap dalam syariat Islam, bahwa tatkala Islam melarang dari suatu amalan -padahal amalan itu dibutuhkan oleh kaum muslimin-, maka dia akan mensyariatkan amalan lain yang mirip dengannya tanpa melanggar syariat yang lainnya. Dalam hal ini, tatkala seorang yang shalat terkadang butuh meludah atau membuang dahak sementara Islam melarang untuk membuangnya ke arah kiblat, maka Islam menuntunkan amalan lain yang syar’i tanpa melarang mereka melakukan hal yang terkadang mereka butuhkan tersebut, yaitu membuang ludah atau dahak ke arah kirinya atau di bawah kedua kakinya atau membuangnya ke pakaiannya lalu menggosoknya.</p>
<p>6.    Kiblat termasuk syariat Allah yang terbesar, karenanya dia harus dimuliakan dengan tidak membuang kotoran -apalagi najis- ke arahnya. Karenanya dimakruhkan untuk buang air besar dan kecil menghadap ke kiblat.</p>
<p>7.    Membuang ludah dan dahak ke arah kiri atau di bawah pakaiannya hanya berlaku jika seseorang itu shalat di luar masjid dan tidak ada orang yang sedang shalat di sebelah kirinya. Adapun jika dia shalat di dalam masjid maka tidak boleh dia meludah ke arah kiri -berdasarkan hadits Anas yang kedua di atas-  dan tidak boleh juga di bawah kakinya karena dia tidak akan bisa menimbunnya, mengingat hampir seluruh masjid kaum muslimin di zaman ini sudah memakai tegel atau yang semacamnya sehingga tidak mungkin bagi dia untuk menimbunnya. Demikian pula jika dia membuangnya ke arah kirinya sementara ada orang di sebelah kirinya maka itu berarti membuang kotoran ke arah saudaranya, dan ini juga tidak diperbolehkan.</p>
<p>8.    Karenanya, larangan membuang dahak dan ludah ke arah kiblat di luar masjid dan tidak sedang shalat adalah mubah dan tidak makruh. Wallahu a’lam.</p>
<p>9.    Larangan berjual beli di dalam masjid. Adapun batasan masjid yang seseorang tidak boleh jual beli di situ, maka silakan baca pembahasannya di sini: <a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1387">http://al-atsariyyah.com/?p=1387<br />
</a></p>
<p>10.    Disyariatkan bagi orang yang melihatnya untuk mendoakannya dengan doa yang ma`tsur di atas.</p>
<p>11.    Jual beli yang dimaksud di sini adalah akad jual beli. Karenanya:<br />
a.    Jika ada dua orang yang melakukan akad di dalam masjid walaupun barangnya belum ada dan pembayaran juga belum dilakukan, maka ini termasuk dalam larangan karena keduanyta telah melakukan jual beli di dalam masjid.<br />
b.    Menitipkan atau menerima titipan uang atau barang dagangan di dalam masjid adalah boleh, karena itu bukanlah jual beli.<br />
c.    Membayar utang di dalam masjid tidak mengapa karena utang piutang bukanlah jual beli. Misalnya ada dua orang yang melakukan akad di luar masjid, barangnya sudah diambil akan tetapi bayarnya besok dan dilakukan di dalam masjid. Maka ini insya Allah tidak mengapa karena pembayaran ini adalah pelunasan utang dan bukan jual beli. Demikian pula sebaliknya jika pembayarannya dilakukan di luar masjid lalu penyerahan barangnya besok di dalam masjid. Contoh lain adalah seseorang memfoto kopi materi taklim dengan uangnya sendiri lalu dia membagi-bagikannya di dalam masjid lalu menerima pembayaran dari yang mengambil materi tersebut. Maka ini juga adalah transaksi pembayaran hutang dan bukan jual beli, selama orang tersebut tidak mengambil keuntungan dari ongkos foto kopinya. Jika dia mengambil keuntungan maka itu termasuk transaksi jual beli dalam masjid yang terlarang. Wallahu a’lam</p>
<p>12.    Larangan mencari barang yang hilang di dalam masjid, dan batasan masjid juga bisa dilihat pada link di atas.</p>
<p>13.    Juga dilarang mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid walaupun dia tidak mencarinya di dalam masjid.</p>
<p>14.    Disyariatkan bagi yang melihat atau mendengar orang yang mencari atau mengumumkan barang hilang di dalam masjid untuk mendoakannya dengan doa yang ma`tsur di atas.</p>
<p>Hanya ini yang bisa kami petik -sebatas keilmuan kami-, dan bagi siapa saja yang bisa memetik faidah lain dari dalil-dalil di atas, maka silakan dia menuliskan pada kolom komentar di bawah. Wal ilmu indallah.</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1908</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=12&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/larangan-jual-beli-dan-meludah-dalam-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Boleh Menunda Shalat Setelah Iqamat</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/boleh-menunda-shalat-setelah-iqamat/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/boleh-menunda-shalat-setelah-iqamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 01:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَسَوَّى النَّاسُ صُفُوفَهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَقَدَّمَ وَهُوَ جُنُبٌ ثُمَّ قَالَ عَلَى مَكَانِكُمْ فَرَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ مَاءً فَصَلَّى بِهِمْ “Suatu hari iqamat sudah dikumandangkan dan orang-orang sudah merapikan shaf-shaf mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan maju ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=10&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَسَوَّى النَّاسُ صُفُوفَهُمْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَقَدَّمَ وَهُوَ جُنُبٌ ثُمَّ قَالَ عَلَى مَكَانِكُمْ فَرَجَعَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ مَاءً فَصَلَّى بِهِمْ</strong><br />
<em>“Suatu hari iqamat sudah dikumandangkan dan orang-orang sudah merapikan shaf-shaf mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan maju ke depan untuk memimpin shalat padahal waktu itu beliau sedang junub. Kemudian beliau berkata, “Tetaplah di tempat kalian.” Beliau pun kembali ke rumah untuk mandi dan datang kepada kami dalam keadaan kepalanya meneteskan air, kemudian beliau shalat mengimami mereka.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 640)<br />
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَعَرَضَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَحَبَسَهُ بَعْدَ مَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ</strong><br />
<em>“Ketika iqamah telah dikumandangkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihampiri oleh seorang laki-laki hingga menahan (menunda) beliau dari menunaikan shalat.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 643)<br />
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَاجِي رَجُلًا فِي جَانِبِ الْمَسْجِدِ فَمَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ حَتَّى نَامَ الْقَوْمُ<br />
</strong><em>“Pada suatu hari ketika iqamat sudah dikumandangkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih berbicara dengan seseorang di sisi masjid. Beliau belum juga melaksanakan shalat hingga sebagian para sahabat tertidur.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 642)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Imam shalat terkadang mempunyai suatu keperluan mendadak lagi mendesak ketika iqamah telah dikumandangkan, yang mana hal itu menyebabkan dia sibuk dan terlambat dari mengimami shalat, sebagaimana yang pernah terjadi pada Rasulullah .<br />
Ada beberapa faidah yang bisa dipetik dari hadits-hadits di atas:<br />
1.    Makmum hendaknya berdiri dan mengatur shafnya ketika iqamah sudah dikumandangkan, walaupun mereka belum melihat imamnya datang.</p>
<p>2.    Nabi -alaihishshalatu wassalam- adalah manusia biasa yang juga dihinggapi oleh kelupaan.</p>
<p>3.    Bolehnya imam ratib menyuruh jamaah untuk menunggu dirinya dan tidak menunjuk penggantinya, jika dia hanya pergi sebentar.</p>
<p>4.    Bukan kebiasaan beliau -alaihishshalatu wassalam- menyeka air dari tubuh dan kepala beliau setelah mandi junub dan berwudhu. Ini ditunjukkan dalam hadits Maimunah bintu Al-Harits riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang sifat mandi junub Nabi -alaihishshalatu wassalam-.</p>
<p>5.    Walaupun imam mengerjakan keperluannya memakan waktu yang lama, akan tetapi setelah dia datang, maka iqamah tidak perlu diulangi. Tidak pernah disebutkan dalam nash beliau memerintahkan untuk mengulang iqamah, hanya karena beliau pergi setelah iqamah.</p>
<p>6.    Besarnya perhatian Nabi -alaihishshalatu wassalam- kepada umatnya dan tinggi kepedulian beliau kepada mereka. Sehingga walaupun iqamah telah dikumandangkan dan ada orang yang masih membutuhkan bantuan beliau, maka beliau tidak menegakkan shalat sampai memenuhi kebutuhan orang tersebut.</p>
<p>7.    Muazzin tidak boleh iqamah seenaknya (tanpa izin imam) hanya karena imamnya terlalu lama datangnya. Karenanya urusan kapan iqamat itu di tangan imam, dia yang memerintahkan muazzin untuk mengumandangkan iqamat.</p>
<p>8.    Bolehnya tidur di dalam masjid.</p>
<p>9.    Bolehnya berbincang-bincang setelah iqamat dikumandangkan, selama tidak menyebabkan terlambat mengikuti rakaat pertama.</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1948</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=10&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/boleh-menunda-shalat-setelah-iqamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bacaan Dalam Shalat Maghrib &amp; Isya</title>
		<link>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/bacaan-dalam-shalat-maghrib-isya/</link>
		<comments>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/bacaan-dalam-shalat-maghrib-isya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 01:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>turi1976</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salafpsusu.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Dari Jubair bin Muth’im -radhiallahu anhu- berkata: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِالطُّورِ فِي الْمَغْرِبِ “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib.” (HR. Al-Bukhari no. 765 dan Muslim no. 463) Dari Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata: كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=8&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Dari Jubair bin Muth’im -radhiallahu anhu- berkata:<br />
<strong>سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِالطُّورِ فِي الْمَغْرِبِ</strong><br />
<em>“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 765 dan Muslim no. 463)<br />
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata:<br />
<strong>كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى قَوْمَهُ فَأَمَّهُمْ فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَانْصَرَفَ فَقَالُوا لَهُ أَنَافَقْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ وَلَآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَأُخْبِرَنَّهُ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا أَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُعَاذٍ فَقَالَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ بِكَذَا وَاقْرَأْ بِكَذَا</strong><br />
<em>“Biasanya Muadz shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian dia datang, lalu mengimami kaumnya. Maka pada suatu malam, dia melakukan shalat Isya’ bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian setelah itu dia mendatangi kaumnya, lalu mengimami mereka. Dalam shalatnya dia membaca surat Al-Baqarah, maka seorang laki-laki keluar dari shalatnya, kemudian shalat sendirian, lalu pergi. Maka mereka berkata kepadanya, “Apakah kamu berlaku munafik wahai fulan?” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku akan mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku akan mengabarkan kepada beliau (perbuatan Muadz ini).” Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, “’Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami para pekerja penyiram (tanaman) bekerja pada siang hari (sehingga kecapekan), dan sesungguhnya Mu’adz shalat Isya’ bersamamu, kemudian dia datang mengimami kami dengan membaca surah Al-Baqarah.” Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menghadap Mu’adz seraya bersabda, “Wahai Mu’adz, apakah kamu tukang fitnah (yang membuat orang lari dari agama, pent.). Bacalah dengan surat ini dan bacalah dengan ini.”</em> (HR. Al-Bukhari no. 664 dan Muslim no. 465)<br />
Dalam riwayat Al-Bukhari:<br />
<strong>فَلَوْلَا صَلَّيْتَ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى فَإِنَّهُ يُصَلِّي وَرَاءَكَ الْكَبِيرُ وَالضَّعِيفُ وَذُو الْحَاجَةِ</strong><br />
<em>“Mengapa kamu tidak membaca saja surat ‘Sabbihisma rabbika’, atau dengan ‘Wasysyamsi wa dluhaahaa’ atau ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’?” Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan.”<br />
</em>Al-Bara’ bin Azib -radhiallahu anhu- berkata:<br />
<strong>سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِشَاءِ { وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ } فَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا أَوْ قِرَاءَةً مِنْهُ</strong><br />
<em>“Saya pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat shalat Isya membaca ‘WATTIINI WAZZAITUUN (surah At-Tiin) ‘. Dan belum pernah kudengar seorang pun yang lebih indah suaranya, atau bacaannya daripada beliau.” </em>(HR. Al-Bukhari no. 766 dan Muslim no. 464)</p>
<p><strong>Penjelasan ringkas:</strong><br />
Bacaan surah Nabi -alaihishshalatu wassalam- di dalam shalatnya berbeda-beda antara satu shalat dengan shalat yang lainnya. Terkadang dalam shalat maghrib beliau membaca surah yang pendek dari surah-surah mufashshal dan terkadang beliau membaca surah mufashshal yang panjang, seperti surah Ath-Thur. Surah-surah mufashshal adalah mulai dari surah Qaf sampai An-Naas, dengan perinciang sebagai berikut: Surah Qaf sampai An-Naba` adalah thiwal al-mufashshal (surah mufashshal yang panjang), surah An-Naba` sampai Adh-Dhuha adalah awasith al-mufashshal (surah mufashshal yang pertengahan), dan surah Adh-Dhuha sampai akhir adalah qishar al-mufashshal (surah mufashshal yang pendek).<br />
Adapun dalam shalat isya, maka beliau telah memerintahkan Muadz untuk membaca surah Al-A’la atau Adh-Dhuha atau Al-Lail, sementara beliau sendiri membaca surah At-Tiin.</p>
<p>Pelajaran lain dari hadits-hadits di atas:<br />
a.    Surah maghrib, isya termasuk shalat jahriyah. Karenanya para sahabat mengetahui surah yang Nabi -alaihishshalatu wassalam- baca.</p>
<p>b.    Suatu masjid yang punya imam ratib tidak mengerjakan shalat berjamaah kecuali setelah imam ratib datang.</p>
<p>c.    Semangat para sahabat untuk shalat di belakang Nabi -alaihishshalatu wassalam-.</p>
<p>d.    Seorang imam ratib harus shalat lagi mengimami makmumnya walaupun dia telah shalat sebelumnya.</p>
<p>e.    Orang yang sudah shalat wajib lalu masuk ke sebuah masjid yang tengah didirikan shalat wajib yang sama, maka hendaknya dia ikut shalat bersama mereka, dan shalat wajibnya untuk kedua kalinya ini dihukumi sebagai shalat sunnah.</p>
<p>f.    Bolehnya orang yang shalat sunnah mengimami orang yang shalat wajib.</p>
<p>g.    Bolehnya imam berbeda niatnya dengan makmum.</p>
<p>h.    Bolehnya memisahkan diri dari jamaah shalat lalu shalat sendiri jika ada uzur syar’i yang membolehkan. Bahkan terkadang wajib bagi dia untuk keluar dari jamaah shalat, misalnya jika dia berhadats.</p>
<p>i.    Harusnya mengklarifikasi sebuah perbuatan kepada pelakunya sebelum menjatuhkan hukum kepadanya, apalagi kalau hukumnya berupa pengkafiran atau menghukumi seorang itu munafik.</p>
<p>j.    Bolehnya makmum mengadukan imam masjid kepada penguasa jika imamnya melakukan kesalahan dalam shalat.</p>
<p>k.    Orang yang melakukan suatu amalan yang lahiriahnya jelek, hendaknya dia menyebutkan uzurnya ketika melaksanakan amalan tersebut. Agar dia tidak mendapatkan tuduhan dan celaan yang tidak pantas dia terima.</p>
<p>l.    Dalam meluruskan kekeliruan hendaknya tidak pandang bulu, walaupun yang melakukan kekeliruan itu adalah seorang yang berilmu atau orang yang dekat dengan dirinya.</p>
<p>m.    Ancaman yang keras bagi orang/dai yang membuat manusia lari dari dakwah ahlussunnah, baik akibat kesalahan mereka dalam menerapkan manhaj  ataukah karena memang sifatnya yang keras dan kurang merahmati orang awam. Dia dinyatakan oleh Nabi -alaihishshalatu wassalam- sebagai tukan fitnah, yakni yang membuat kerusakan.</p>
<p>n.    Bolehnya mentahdzir tanpa menasehati terlebih dahulu.</p>
<p>o.    Di antara sikap dari: Berlemah lembut dan penuh kompromi kepada orang awam, selama tidak mengantarkan kepada perbuatan melanggar agama.</p>
<p>p.    Harusnya dibedakan antara kesalahan manhaj dan metode dengan kesalahan penerapan. Kesalahan manhaj bisa mengeluarkan seseorang dari ahlussunnah, tapi tidak demikian dengan kesalahan penerapan.</p>
<p>q.    Di antara sifat syariat Islam adalah: Tatkala dia melarang dari sesuatu karena suatu sebab maka dia akan menganjurkan sesuatu yang mirip dengan itu tapi tidak melanggar sunnah.</p>
<p>r.    Yang menjadi patokan dalam ibadah adalah kualitas (ikhlas dan mutaba’ah), bukan kuantitas. Karenanya tidak selamanya orang yang bacaannya panjang itu lebih besar pahalanya daripada yang bacaannya pendek, bisa saja sebaliknya.</p>
<p>s.    Hendaknya imam memperhatikan maslahat dan keadaan makmum dalam hal panjangnya bacaan, lamanya ruku’ dan sujud, dan seterusnya. Dan bukan hanya memandang dirinya, apakah dia sanggup mengerjakannya ataukah tidak.</p>
<p>t.    Disunnahkan untuk memperindah suara dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur`an, selama masih dalam koridor kaidah-kaidah tajwid.</p>
<p>Wallahu Ta’ala A’lam, wafauqa kulli dzi ilmin alim.</p>
<p>http://al-atsariyyah.com/?p=1963#more-1963</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salafpsusu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salafpsusu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salafpsusu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salafpsusu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salafpsusu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salafpsusu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salafpsusu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salafpsusu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salafpsusu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salafpsusu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salafpsusu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salafpsusu.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salafpsusu.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salafpsusu.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salafpsusu.wordpress.com&amp;blog=11565858&amp;post=8&amp;subd=salafpsusu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salafpsusu.wordpress.com/2010/07/29/bacaan-dalam-shalat-maghrib-isya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/11d8038fbcc96760d613e90076835959?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">turi1976</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
